Ini adalah yang ke-3 kalinya bagi Kota Malang dalam menyelenggarakan event serupa, dan sepertinya acara ini juga akan menjadi agenda tahunan untuk tahun-tahun mendatang. FMK 2008 digelar 22-25 Mei yang lalu, dan menyita perhatian seluruh warga Malang seperti biasanya. Termasuk saya.
Yang unik dari acara ini adalah konsepnya. FMK bisa jadi hanyalah merupakan festival biasa, namun dikemas dalam suasana jaman doeloe. Stand-stand yang dibedakan sesuai masa sejarah (masa kerajaan, Islam klasik, dan masa kolonial), pakaian atau dresscode bagi pengunjung yang mewajibkan busana tempo dulu, dilengkapi dengan diorama apik perjalanan sejarah Kota Malang.
Tak tanggung-tanggung, kabarnya ada sekitar 200 peserta yang berpartisipasi menyambut pengunjung dengan stand-stand yang berjajar sejauh 500 meter di sepanjang Jalan Raya Ijen. Demi kelancaran festival, maka akses jalan besar yang menuju lokasi akan ditutup. Tak pelak, jalur transportasi di Malang sempat amburadul akibat kehebohan acara yang bertemakan “Sejuta Tradisi Satu Aksi” ini.
Selain stand-stand, FMK 2008 juga menampilkan panggung rakyat, sayembara berhadiah, workshop singkat gratis, dan tak ketinggalan upacara adat. Panggungnya sendiri ada 4, yang menampilkan kesenian tradisional macam wayang, ludruk, atau ketoprak. Sayembara yang bisa diikuti pun bermacam-macam, ada lomba busana anak tempoe doeloe sampai kakang-mbakyu cilik (semacam abang-none di jakarta
). Workshopnya pun mendatangkan para ahli di berbagai bidang: ukir, batik, karawitan, kaligrafi, bahkan pembuatan keris. Dan asiknya, semuanya bisa diikuti secara gratis.
Pada pembukaannya, ada 12 wakil negara dunia (Asia, Australia, dan Eropa) yang mengawali kunjungan ke festival ini. Sedangkan pada penutupannya 25 Mei, ada upacara adat orang Jawa yang akan didemonstrasikan dan disertai penjelasan dari ahli sejarah.
Kita bisa berkunjung ke FMK dengan siapa saja. Tidak perlu memaksakan diri memakai pakaian tradisional, walaupun kostum ini sangat dianjurkan demi mewujudkan suasana yang klasik punya. Banyak juga warga Malang yang kreatif, bawa-bawa sepeda onthel jama dulu sambil memakai seragam kompeni. Tapi, ya ampun, stand di sini harganya mahal-mahal.
Anyway, bagus juga acara semacam ini, dapat meningkatkan wawasan dan tetap mempu mengingatkan kita darimana kita berasal. Apalagi FMK punya potensi menarik wisatawan. Bravo buat Pemkot Malang, Telkomsel, Radar, dan Yayasan Inggil yang telah berhasil menyelenggarakan FMK 2008 ini!
