Sudah menjadi harapan tiap orang tua untuk memberikan pendidikan yang terbaik baik putra-putrinya. Pendidikan yang dimaksud tentu saja adalah sebagai bekal untuk terjun di dunia nyata, di mana peran serta orang tua tidak selalu dapat mendampingi mereka di saat mereka sudah dewasa. Ada banyak cara bagi orang tua yang berbeda untuk mencapai hal tersebut, dan salah satu yang paling tipikal adalah menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang tertinggi.
Sekolah dirancang untuk memberi “pendidikan” buat mereka yang mau dididik, yang kemudian bergeser fungsinya sebagai batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan di masa yang akan datang. Maksud saya, memang siapa sih yang tidak ingin kerja, dapat uang, dan menjalani hidup? Itulah yang menjadi dasar berpikir kebanyakan orang yang menyekolahkan anak-anak mereka, yaitu agar putra-putrinya dapat memperoleh pekerjaan yang baik di masa yang akan datang, dan tentunya dengan gaji yang tinggi.
Paradigma ini, menurut saya, berkembang dari sejarah kelam bangsa Indonesia yang pernah dijajah oleh kompeni jaman dulu. Rakyat hidup pas-pasan, makan seadanya, kelaparan, (dan lain-lain, silakan sebutkan), kecuali kalau mereka mau bekerja sebagai buruh yang digaji oleh pemerintah Hindia Belanda. Imbasnya, rakyat kita memiliki satu pola pikir baru, yaitu “hidup adalah untuk bekerja dan dapat uang supaya tidak kelaparan.”
Rakyat yang tangguh itupun melihat pada dunia sekolahan (jaman dulu). Mereka melihat bahwa anak-anak yang bersekolah dan lulus dengan baik akan dipekerjakan oleh pemerintah di banyak bidang. Mungkin Anda pernah mendengar bahwa politik etis Belanda memiliki maksud terselubung, yaitu mencari pekerja dengan upah seminim mungkin? Rakyat kita mungkin salah menginterprestasikan sekolahan (yang notabene saat itu adalah rancangan Belanda sendiri) adalah tempat untuk menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Lalu, seiring waktu berjalan, paradigma ini diwariskan turun-temurun pada anak cucu generasi Indonesia, hingga jaman reformasi semacam ini. Walaupun penjajahan secara fisik sudah tidak terlihat, namun pola pikir rakyat kita masih tetap sama. Kali ini, kita memiliki sebuah lembaga pendidikan yang dikelola sendiri oleh anak bangsa. Memang tidak ada yang salah dari sisi tenaga pendidiknya, karena mereka memang memiliki niatan untuk mebagi ilmu. Namun, anak yang dididik itu sendiri yang memiliki masalah, karena mereka bersekolah bukan untuk mencari ilmu, namun untuk mendapatkan gelar sebagai syarat lamaran pekerjaan. Kalau tidak ada gelar, gimana bisa kerja?
Jadi jangan heran jika sehari-hari di sekolah isinya hanya keluhan karena banyak tugas atau ulangan mendadak, atau banyak permintaan untuk liburan sekolah. Karena apa? Karena murid-murid belajar di sekolah karena terpaksa. Mereka merasa bahwa pelajaran yang dipelajari sehari-hari di ruangan kotak membosankan itu tidak akan berguna bagi masa depan mereka (karena berbeda jauh dengan cita-cita yang mereka dambakan). Namun, di sisi lain, mereka tidak punya pilihan lain karena sekolah adalah kunci untuk menuju masa depan itu sendiri (baca: memperoleh pekerjaan). Mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena begitulah sistem berjalan. Suka atau tidak suka, mereka harus sekolah.
Saya memang hanya menyuarakan opini saya pribadi, dan tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan sistem sekolah yang selama ini kita anut. Pada kenyataannya, saya sendiri sedang belajar di salah satu lembaga pendidikan, dan fenomena yang saya jumpai selalu begitu. Jarang sekali ada anak yang sekolah dengan niatan tulus untuk mencari ilmu, TANPA mengejar nilai ulangan yang baik untuk lulus dengan predikat terbaik, lalu untuk bekerja di lapangan pekerjaan yang terbaik.
Yang sering saya temui adalah rasa keterpaksaan untuk bersekolah, mempelajari sesuatu yang tidak ingin mereka dalami lebih jauh, bahkan lebih parah lagi yaitu berusaha sekuat tenaga untuk menguasai materi karena akan diujikan dalam Ujian Nasional. Lalu kalau sedang terjepit, dapat saja menghalalkan segala cara untuk memperoleh prestasi tertinggi. Termasuk di event nasional.
Mindset siswa- siswi sekolahan sekarang adalah, “lalukan yang terbaik, dan kalahkan semua anak untuk lulus sebagai yang terbaik supaya dapat pekerjaan yang baik.” Mereka seperti “dituntut” untuk menjadi yang terbaik diantara teman-temannya. Dalam nilai kognitif, danem, ataupun hal-hal lainnya yang menjadi ajang bersaing di lingkungan sekolahan. Semuanya masih berakar dari paradigma lama kita tentang pendidikan.
Saat ini, kita bersekolah hanya demi mengejar nilai yang tinggi untuk lulus dengan gelar yang kita mau. Sekolah adalah tempat untuk bersaing demi menyongsong masa depan yang tak pasti, dan tempat penyiksaan tanpa akhir bagi kebebasan anak. Pilihan ada di tangan Anda, bagaimanakah Anda akan bersikap terhadap salah kaprah ini?
