Waktu saya menginjak kenaikan kelas XI di SMA, saya menjalani masa penjurusan. Para siswa diminta mempertimbangkan salah satu diantara tiga pilihan (IPA, IPS, atau Bahasa) yang merupakan sebuah langkah kecil demi masa depan yang membentang. Pertimbangan untuk memilih banyak sekali. Biasanya yang dipakai acuan adalah minat dan bakat.
Sekarang, manakah diantara keduanya yang paling menentukan?
Guru bimbingan dan konseling saya mengatakan: Bakat tanpa minat itu percuma, karena kita tidak dapat menikmati usaha kita. Minat tanpa bakat, sebaliknya. Beliau mengatakan, bakat itu dapat diasah asalkan ada minat. Dan seiring dengan berjalannya waktu, bakat kita akan tumbuh karena pada dasarnya kita menikmati detik-detik kita belajar karena didorong dengan minat.
Saya setuju dengan pernyataan itu. Bagaimanapun, kita berhak untuk memilih jalan hidup mana yang akan kita tempuh. Berhasil atau tidak, itu Tuhan yang menentukan. Yang dapat kita lakukan adalah menekuninya, dan dibantu dengan support dari lingkungan sekitar. Terutama orang tua.
Masalahnya, menurut saya banyak orang tua yang lebih mementingkan bakat daripada minat si anak. Atau dalam kasus yang lebih parah, mereka tidak mementingkan keduanya. Mereka memaksakan minat mereka sendiri.
Banyak orang tua, menurut saya, cenderung mendikte anak mereka tentang apa-apa yang mereka anggap bagus bagi si anak, padahal mereka hanya memaksakan keinginan mereka. Misalnya: ada seorang Ayah yang menyuruh anaknya aktif di organisasi. Nah, kira-kira siapa yang lebih berminat: Ayah atau anak?
Mungkin si anak akan menuruti perkataan Ayahnya dan betulan ikut organisasi, dan Ayahnya merasa puas. Tapi apakah dia menikmati hari-harinya berkecimpung di sana? Hanya anak itu yang tahu. Jika dia merasa nyaman, baguslah. Jika tidak, maka sang Ayah telah memuaskan dirinya dengan mengorbankan kesenangan anak sendiri.
Contoh paling umum: pengorbanan cita-cita anak. Atau penentuan karir oleh orang tua. “Kamu besok harus jadi itu, bakatmu ada di situ,” atau “jangan jadi ini, kamu nggak bakat di sini,” dan seterusnya, dan seterusnya. Bukankah itu namanya pemerkosaan hak-hak anak untuk menentukan jalan hidupnya?
Anak adalah infestasi masa depan yang penuh potensi dan patut berkembang. Memaksakan kehendak pada anak, menurut saya pribadi malah akan menghambat perkembangan si anak itu sendiri. Tentunya mereka memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat disiasati dan dimanfaatkan demi masa depan yang cerah dan MEMBAHAGIAKAN.
Bagaimana kalau sekarang dibalik, si Anaklah yang menentukan masa depannya dan orang tua mendukungnya. Dengan begini, akan ada simbiosis mutualisme, kan? Walaupun si anak pada akhirnya kurang berhasil, misalnya, toh orang tua pada dasarnya adalah orang yang (seharusnya) paling mensupport anaknya, di kala susah maupun senang.
Dan kemudian si anak akan belajar dari kegagalannya dengan suka cita, karena ia tahu bahwa dia memiliki orang tua yang akan selalu bersamanya. Bahkan mungkin dia akan menyambut gagasan-gagasan dari orang tuanya, karena dia telah mengetahui bahwa sebenarnya dia memang berbakat di bidang yang lain. Dengan penerimaan yang baik, segalanya akan berjalan semestinya. Bebas dari pemaksaan kehendak.
Happy ending, deh

saya setuju sekali …. dengan artikel ini… memang seharusnya anaklah yang menentukan semuanya, karna dia yang akan menjalaninya…. sepandai apapun anak itu jika kegiatan / kariernya tidak dia sukai maka kepintaran dan kepandaiannya itu hanya menjadi sia – sia dan tidak berkembang.
selain itu dengan memberikan seluruh pilihan dan wewenang dalam menetukan masadepannya maka ketika si anak mengeluh, orang tua dapat memberikan dorongan dan support bahwa itu adalah pilihannya, sehingga si anak akan lebih merasa bertanggung jawab dan tidak berusaha untuk mencari – cari kambing hitam atas stressnya ….
terima kasih banyak
Ya, ya.. Saya juga setuju dengan poin mbak ami ttg “pertanggungjawaban” anak terhadap pilihannya.
Bagaimanapun, berani berbuat harus berani bertanggung jawab