Saya yakin, pasti Anda-anda berpikir bahwa semakin lama cyberspace ini makin ramai dengan aktivitas segala macam orang. Tidak peduli umur, jenis kelamin…. Katanya yang seperti itu nggak penting lagi di dunia maya ini. Karena tidak ada yang peduli siapakah yang ada di balik komputer di saat mereka online.
Motif orang nge-net pun berbeda-beda. Orang dewasa kebanyakan ingin mencari info tentang pekerjaan mereka, atau hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Apalagi anak-anak atau remaja, kebanyakan mencari hal yang berbau hiburan. Chatting, game online, atau kenalan dengan orang-orang baru. Semuanya bisa didapat hanya dengan sentuhan jari dan hitungan detik.
Remaja memang memiliki suatu ketertarikan khusus dengan dunia yang tergolong memiliki inovasi baru ini. Mereka memiliki banyak waktu untuk berkunjung ke sini. Misalnya pada saat pelajaran TI yang mengijinkan browsing di internet, belum lagi kalau ada tugas sekolah yang menuntut pengkajian referensi yang banyak. Daripada pusing nyari bahan di buku-buku perpustakaan, sang guru cukup menyarankan, “Cari saja di internet. Di sana banyak info.”
Dan saya yakin sebagian besar remaja akan berpikir, “Wah, kebetulan banget. Sekalian buka Friendster, ah…” :b
Berkelana dan menimba ilmu di dunia maya ini memang suatu kebutuhan, karena banyak hal-hal positif yang bisa diperoleh jika dibandingkan dengan apa yang mungkin terjadi di dunia nyata. Kita nggak perlu beli perangko kalau ingin kirim surat, nggak harus beli buku kalau ingin tahu tentang sesuatu yang baru. Banyak hal yang ditawarkan, yang mahal di dunia nyata.
Tapi tunggu dulu. Saya pernah membaca di salah satu buku: menurut para psikolog, ketagihan internet dapat menurunkan kemampuan untuk bersosialisasi ataupun menghambat pertumbuhan psikologi remaja. Karena mereka banyak menghabiskan waktu di depan komputer dan jarang belajar tentang dunia tempat mereka hidup: yaitu dunia nyata.
Studi lebih lanjut: orang yang menghabiskan sebagian waktunya di internet cenderung terisolasi, memiliki teman yang lebih sedikit, merenggangkan waktu komunikasi dengan keluarga, stress, kesepian, hingga depresi. uh?
Mungkin itu benar bagi orang yang kecanduan internet, tapi tidak akan terjadi selama kita masih benar-benar sadar bahwa kehidupan kita sebenarnya adalah dunia nyata. Sayangnya, mungkin masih ada orang yang belum sadar kalau dia kecanduan, dan terus saja menggandrungi internet walaupun kehidupannya terabaikan. Kita nggak ingin itu terjadi, kan?
Untuk berjaga-jaga, mari kita merenungkan seberapa bergantungkah kita pada internet. Tanyakan pada diri kita sendiri, apakah hidup kita masih baik-baik saja, atau sedikit tak terurus gara-gara sering online? Apakah hubungan kita dengan sesama manusia mulai merenggang atau apakah kita mulai bersikap tertutup pada orang-orang, bukan karena kita membencinya?
Adakah orang yang mengeluhkan perilaku kita karena internet? Apakah kita terus-terusan ingin main internet padahal tidak ada hal penting yang harus dilakukan di sana, atau apakah kita hanya tidak pernah merasa puas dalam sekali online?
Sayang sekali, jawabannya cuma kita yang tahu. Oleh karena itu, mari kita mantapkan tujuan kita berinternet, dan mari kita sadari bahwa hidup kita juga masih berharga untuk dinikmati. Saya tidak bilang kalau kita harus terlalu paranoid dengan internet, karena yang berhak menjalani hidup Anda adalah Anda sendiri. Kelak kita akan menuai apa yang kita tabur, apapun itu kitalah yang memutuskan.

Betul juga sih opini Vika bahwa internet menjadi kebutuhan sehari-hari di dunia nyata saat ini. segala kebutuhan dapat diperoleh melalui internet. pekerjaan dapat diselesaikan melalui internet. persoalan teman? bisa dapat segudang melalui internet.
hidup ini kan diciptakan Allah SWT indah dan akan menjadi tidak indah jika hanya hidup ini diisi dengan duduk di depan komputer untuk akses di dunia maya.
Imam Ibadurrahman
kunjungi juga : http://suaraterpuji.wordpress.com