Pernahkah kamu menemui suatu acara yang on-time, yang mulai serta berakhir tepat waktu menurut jadwal? Syukurlah kalau masih ada, tapi saya yakin banyak yang menjawab sebaliknya.
Keterlambatan semacam ini lebih populer dengan istilah Jam Karet, yaitu jam sebagai penunjuk waktu yang bisa molor. Jam macam ini sudah lama dimiliki Indonesia, sampai terkenal sampai ke seantero dunia. Ck, ck, ck.
Saya yang melihat fenomena ini langsung penasaran kenapa tidak semua orang dapat tepat waktu. Yah mungkin banyak penyebab terlambat itu, tapi kebanyakan alasan yang kita pakai sudah jauh dari batas toleransi. Jika kita telat sekali karena macet misalnya, mungkin itu dapat dijadikan peringatan agar berangkat lebih pagi. Tapi mungkin masih ada dari sebagian kita, tidak ada macet atau ada macet sama saja. Who cares?
Jadinya baru-baru ini saya iseng mengkaji masalah ini secara ilmiah di lingkup siswa SMA Negeri se-Kota Malang. Yang diteliti adalah penyebab Jam Karet, dampak Jam Karet, hambatan dalam mengatasi masalah Jam Karet, dan solusi untuk masalah Jam Karet. Tapi hanya terbatas di lingkungan SMA Negeri saja.
Hasil yang didapat cukup mengejutkan, karena didapat kenyataan bahwa kesadaran siswa mengenai tepat waktu sudah tinggi. Mereka banyak yang menganggap bahwa terlambat itu adalah sesuatu yang buruk. Namun ironisnya, masih banyak ditemukan kasus telat masuk bagi para siswa sehingga mereka harus mampir ke ruang Tata Tertib sebelum masuk pelajaran.
Lho, jadi sebenarnya ada apa? Kesadaran yang kokoh itu tidak mungkin dirusak oleh dirinya sendiri, kan?
Lalu ternyata ketahuan kalau penyebab siswa ngaret adalah karena selama ini LINGKUNGAN yang nggak mendukung. Guru kadang telat mengajar, upacara sering molor selama 10 menit, acara-acara sekolah sudah biasa kalau harus nunggu selama setengah sampai satu jam. Gimana bisa nggak terpengaruh?
Sayang sekali, padahal kami para siswa sudah dididik untuk berdisiplin pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS) waktu kali pertama kami menimba ilmu di instansi ini. Sudah datang tepat sebelum jam 5 pagi, diteror secara fisik dan mental oleh kakak-kakak pembina…. Aaah, rasanya kedisiplinan yang sudah dibangun itu seolah runtuh gara-gara melihat fakta bahwa lingkungannya penuh dengan kemoloran.
Dampaknya? OOoh, sudah jelas Jam Karet hanya akan mengakibatkan pemborosan waktu dan MERUSAK KEDISIPLINAN siswa itu sendiri. Selain itu apa nggak kesel, tuh, nunggu sampai lama padahal waktu itu sangat berharga?
Dalam membasmi penyakit Jam Karet ini tentu nggak mudah. Banyak banget hambatan-hambatan terutama masih berlakunya peraturan keterlambatan yang kurang menimbulkan EFEK JERA bagi pelaku. Di sekolah saya, jika siswa telat maka dia akan diberi poin. Tindakan yang sebenarnya baru akan dilakukan setelah poin itu mencapai batas tertentu. Biasanya sih, membuat surat pernyataan dengan materai plus tanda tangan ortu komplit.
Apalagi kadang dijumpai pintu gerbang yang masih terbuka lebar padahal bel masuk sudah berbunyi. Bagi yang terlambat, maka dia tidak akan merasa bahwa perbuatannya itu perlu diperbaiki. Alih-alih, dia akan berpikir, “Aah, nggak apa-apa lah terlambat toh gerbang sekolah nggak akan ditutup. Kalaupun telat paling-paling cuma dapat poin, beressss.” Eeeeeh?
Siswa-siswa yang mengisi angket juga telah memberikan solusi bagi fenomena ini. Satu yang paling penting adalah dengan memberi sanksi yang tegas bagi para pelanggar waktu. Panggil orang tuanya saat itu juga, bicarakan mengapa putranya sampai terlambat (misalnya). Jadi ada komunikasi anatara instansi dengan wali murid, dan supaya semua pihak dapat mengusahakan yang terbaik bagi dia agar tidak terlambat lagi.
Plus yang penting juga… Berikanlah kami suri tauladan yang baik, wahai Bapak dan Ibu Guru. Kalian adalah figur panutan yang membentuk perilaku kami, sadar atau bawah-sadar. Ada pepatah mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing sambil sprint 100 meter.” Hehehehe
Sebenarnya kalau mau dikaji lebih jauh solusinya masih banyak lho. Hanya kadang kita kurang niat dan kemauan. Paling tidak perbaikilah Jam yang kita pakai masing-masing. Masih bau karet? Atau sudah pakai Jam Import yang selalu in-time? Kalau Jam Import tapi bau karet, itu sih namanya Jam Palsu!!

Jam yang terbaik menurut saya bikinan Swiss.
Yang ini asli Made In Indonesia. Orisinal. Yang terbaik dari Indonesia. Tak bakal dibajak oleh bangsa lain.
Jam karen
Patut kita berbangga karenanya