Manusia diciptakan dengan banyak variasi antara satu dengan yang lain. Wajah, tempat tinggal, latar belakang, pasti setiap orang memiliki masing-masing identitas yang khas. Bahkan diantara kembar identik sekalipun, mereka memiliki sesuatu yang berbeda, misalnya sidik jari dan gen.
Dengan perbedaan-perbedaan itulah, kita semua telah menjalani hidup kita. Kita hidup di tengah wajah-wajah yang berbeda, warna kulit yang berbeda, pekerjaan yang berbeda, hidung yang berbeda…. Kita memang dikaruniai hal-hal yang tidak akan pernah dapat dipunyai oleh orang lain. Semua itu adalah milik kita, dan kita patut berbangga karenanya. Kita adalah diri kita sendiri.
Untuk itulah, kita memiliki suatu kesadaran tentang perbedaan dari orang lain. Kita memiliki idealisme yang berbeda-beda, jalan pikir yang unik antara satu sama lain, dan kita mempertahankannya semata-mata untuk menegaskan pandangan pribadi kita sebagai manusia seutuhnya. Seseorang yang hidup.
Namun, seringkali kita terlalu lekat berpegang teguh pada keyakinan kita sendiri. Kita cenderung melawan hal-hal yang “asing” bagi dunia logis kita, dan sulit untuk menerimanya. Secara sadar maupun tidak, kita memiliki kebutuhan untuk mempertahankan pendirian-pendirian kita yang telah terbentuk lama dari pikiran kita yang keras kepala.
Singkatnya, kita cenderung sulit untuk menerima ide yang berbeda dengan keyakinan kita, selogis apapun ide tersebut terdengar.
Mungkin kita telah melupakan hal ini: fakta bahwa manusia tidak akan dapat hidup tanpa orang lain, dan adanya perbedaan-perbedaan yang tak terelakkan.
Semua orang pasti memiliki pendapat yang berbeda-beda, tidak ada yang sama persis. Otak kita berjalan sesuai dengan pola pikirnya masing-masing. Dan ya, manusia mendapat nilai plus jika berhasil membangun identitas diri dan menjadi dirinya seutuhnya. Berpegang teguh pada pendiriannya tanpa terombang-ambing di antara perbedaan. Tapi apakah hal yang lebih baik dari itu? Yaitu menerima perbedaan tersebut dan mampu belajar darinya, atau saya lebih suka menyebutnya keterbukaan.
Mendengarkan ide-ide baru yang sama sekali berbeda dengan keyakinan kita, dan mampu untuk memikirkannya lebih lanjut, adalah keterbukaan. Otak orang-orang yang terbuka selalu saja mencari dan mencari hal-hal yang asing di sekitar mereka, sebanyak mungkin menemukan perbedaan. Meskipun mereka mempunyai idealisme yang melekat dalam kehidupannya, mereka berusaha untuk terbuka pada idealisme-idealisme yang lain.
Jadi, alih-alih mencaci maki dengan sumpah serapah pada ide baru tersebut, marilah kita mencoba untuk menelaahnya. Mencari tahu lebih lanjut dan membandingkannya dengan pendirian lama kita yang lama. Hal-hal baru yang awalnya terdengar konyol dan bodoh, dapat berubah untuk menunjukkan sisi-sisi positifnya ketika kita menggali lebih dalam. Bahkan ular yang berbisa sekalipun memiliki manfaat bagi mereka yang mau mempelajarinya.
Mungkin cerita-cerita para jenius klasik dapat mengingatkan kita. Kisah Copernicus misalnya, ia dicerca habis-habisan saat mengemukakan ide barunya tentang alam semesta, bahwa bumilah yang mengorbit matahari dan bukan sebaliknya. Ilmuwan, pemikir, gereja…. Semua menentang ide konyol itu. Tapi jika dipikir-pikir, lebih konyol lagi jika kita mengetahui bahwa teori “Heliosentris” itu kini diakui dan dipelajari oleh orang-orang seantero dunia. Banyak penemuan-penemuan hebat bermula dengan mendapat perlawanan sengit, begitu pula ide-ide baru yang seringkali kita tolak pada awalnya.
Jika sulit menerapkan sikap terbuka ini, cobalah mengamati bayi-bayi yang sedang bertumbuh dalam proses belajar. Mereka sedang berkembang, belajar tentang dunia. Mereka mencoba-coba hal yang baru, menunjukkan ketertarikan pada hampir segala hal. Otak mereka menyerap semua untuk dijadikan bekal untuk tumbuh, dan membuka jendela keingintahuan mereka selebar-lebarnya. Percaya ataupun tidak, kita juga bisa menjadi sisi kanak-kanak kita yang penuh gairah belajar, penerimaan, dan keterbukaan.

mantaaaaaap,i with you,,i love you so much
eh?