Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional makin dirasa diperlukan dewasa ini. Kebutuhan masyarakat pun makin menjadi-jadi. Nggak cuma anak SD saja, orang yang sudah berumur pun mulai melirik kursus bahasa Inggris meski malu-malu.
Bahasa Inggris, memangnya sepenting itu?
Ya, 100 persen. Di bidang manapun, bahasa Inggris adalah hal yang sangat vital. Kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Inggris semakin ditutut apalagi dalam menyambut era globalisasi. “Kemampuan berbahasa Inggris” akan menjadi syarat wajib dalam melamar pekerjaan, atau paling tidak menjadi sesuatu yang diperhitungkan. Nggak bisa bahasa Inggris, seperti menjadi orang asing dari planet Mars. (Mau jadi Alien?)
Coba kalau buta bahasa Inggris, bisa-bisa kita dibodohi sama orang luar karena nggak ngerti yang diomongkan. Kita jadi terisolasi dari dunia internasional karena kita hanya ngerti bahasa Ekstraterestrial. Status bahasa Inggris dibanding bahasa negara lainnya di dunia, ibarat keagungan bahasa Indonesia diantara bahasa-bahasa daerah yang jumlahnya nggak sedikit. Jadi, sepertinya kita sebagai warga planet Bumi memang patut menguasai Bahasa Internasional ini. Apalagi bagi mereka para penerus bangsa.
Kesulitan-kesulitan umum
Kita mengalami hambatan dalam belajar bahasa Inggris, saya rasa paling umum karena kita tidak benar-benar pernah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita belajar macam-macam grammar, berjuta-juta vocab, tapi tidak pernah mempraktekkannya. Kebanyakan disebabkan oleh “tidak ada teman yang bisa diajak ngomong bahasa Inggris.” Akhirnya hasil belajar kita sia-sia.
Kesulitan kedua mungkin karena masalah usia, meskipun menurut saya hal ini tidak perlu dirisaukan. Banyak orang berdalih tidak sanggup mempelajari sesuatu karena “sudah terlambat.” Seharusnya tidak perlu mengatakan sesuatu yang sudah jelas, tapi berusaha agar masalah itu teratasi akan membuatnya ke jalan yang lebih baik. Agaknya itu dapat menjadi pelajaran buat kita agar pendidikan bahasa Inggris dapat dengan segera diterima oleh generasi muda sedini mungkin.
Cara mudah menyiasatinya, ajak balita Anda bicara
Guru Bahasa Inggris saya bercerita suatu hari, beliau mulai menanamkan bahasa Inggris pada putranya semenjak masih balita. Sang ayah cuma berbicara bahasa Indonesia, plus bahasa Inggris di saat-saat tertentu. Jadi, sepertinya ada “pencampuran bahasa” yang tidak disadari oleh anak tersebut. Baginya, bahasa yang diucapkan ayahnya adalah bahasa yang sama, walaupun kenyataannya tidak.
Hasilnya? Anak guru saya itu mulai mahir ngoceh bahasa Inggris, meskipun umurnya belum masuk usia sekolahan (mungkin). Ketika dia diajak ke desa, dia melihat kuda menarik delman. Mungkin anak “normal” akan meneriakkan, “Kuda! Kuda!!” dengan semangat. Tapi, dia tidak. Alih-alih, dia memekikkan, “Bapak, Bapak! It’s a hoooooooorrrse!“
Well, kelihatannya sukses tuh.
Pernahkah terpikir kenapa kita sangat lanyah menggunakan bahasa Indonesia? Yap, karena dari lahir sampai sekarang, kita selalu berurusan dengan bahasa Indonesia. Hal serupa juga dapat menjelaskan kenapa orang Perancis bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasanya sendiri, yang bagi saya cuma terdengar sebagai ceriwisan, bunyi tak beraturan—pokoknya sesuatu yang abstrak dan tidak jelas.
Begitu juga dengan bahasa Inggris. Mungkin contoh guru saya itu adalah contoh yang bagus untuk memulai. Dengan menggunakan kata-kata bahasa Inggris disekitar anak untuk menanamkan beberapa kata. Lama-kelamaan si anak akan terbiasa dan mahir secara alamiah. Hmmm.
Buku-buku bacaan bahasa Inggris juga boleh. Dengan terbiasa “membaca” kata-kata bahsa Inggris, otak si anak akan belajar merekam informasi seiring berjalannya waktu. Mungkin dalam usia dini, si anak bisa ngomong tiga bahasa sekaligus: Inggris – Indonesia – bahasa daerah.
Ingin mencoba?
