Apakah kamu mempunyai suatu pandangan negatif mengenai diri sendiri, yang parahnya, hal itu membuat kamu kehilangan kepercayaan diri atau merasa kurang dengan standar-standar tertentu?
Remaja banyak sekali mengalaminya. Mereka selalu merasa kurang cantik, kurang tinggi, kurang kurus (jarang sekali yang merasa kurang gemuk), kurang inilah, itulah. Kulitnya terlalu putih, terlalu kuning, terlalu coklat, terlalu gelap. Dan mereka bisa sangat sensitif mengenai masalah kecantikan ini.
Jika seseorang yang merasa dirinya gemuk (padahal dia tidak ingin terlihat demikian), maka jika kamu mengatainya, “Hei, gendut!” atau sesuatu yang berbau similar, bukan tidak mungkin dia akan langsung berlari dan mengusap air mata. Baiklah, walaupun itu berlebihan, mungkin saja dia tetap menyembunyikan kesedihannya dengan topeng senyuman. Dan bila dia sampai di rumah, dia akan menghabiskan sepanjang sore mengunci diri di kamarnya untuk memandangi betapa gemuknya ia di cermin.
Sebenarnya mungkin ia tidak terlalu gemuk, tapi karena ia merasa demikian maka cermin itu seolah-olah menampilkan wujud yang selama ini ada di benaknya. Dia tertipu oleh pikirannya sendiri.
Nah, apakah kamu punya perasaan-perasaan tertentu mengenai diri kamu yang selama ini membuatmu merasa tertekan? Percaya atau tidak, penyebabnya berasal dari lingkungan terdekat kamu sendiri.
Orang tidak akan begitu sedih apabila ada orang lain yang mengatainya macam-macam. Mungkin dia merasa sedih pada awalnya, namun semangatnya bangkit lagi karena orang lain tersebut bukan siapa-siapa baginya. Cuma angin lalu.
Tapi jika seseorang yang dekat denganmu, dan sangat berpengaruh dalam keseharianmu mengatakan hal yang kurang dari dirimu, mungkin itulah yang menyebabkan luka membekas yang terus menghantui setiap saat. Meskipun orang lain tidak mengatakan apa-apa mengenai hal tersebut, secara tidak sadar kamu akan mulai membenci kekuranganmu itu. Dan berusaha keras setiap saat agar kekuranganmu dapat tertutupi, padahal itu tidak perlu.
Saya pernah lihat di Oprah, ada ibu-anak kulit hitam yang menderita karena ejekan orang-orang yang mengatainya macam-macam karena kulitnya itu. Mereka sangat terpukul dengan ejekan itu hingga merasa bahwa seharusnya mereka tidak perlu dilahirkan. Dan yang mengejutkan, yang mengejek mereka adalah golongan orang kulit hitam lainnya.
Hmmm.
Mereka malah mengaku kalau selama ini ejekan yang datang malah sebagian besar datang dari kaum mereka sendiri. Dan itulah yang membuat mereka membenci hidupnya.
Kaum sendiri dapat juga diartikan keluarga. Paham-paham tertentu dalam keluarga juga dapat membekas dalam benak kita tanpa sadar, dan menjadi tolak ukur kita terhadap diri kita sendiri.
Misalnya di rumah, saya sering disindir “terlalu pendek” atau sejenisnya. Padahal, belum ada orang di luar rumah yang mengatakan demikian. Meskipun kedengaran sepele, dan saya tidak pernah menanggapinya secara serius, namun setiap kali saya bercermin, yang terlihat adalah bayangan-anak-pendek yang kerap kali ditujukan pada saya. Saya tidak pernah puas dengan tinggi badan saya.
Hal serupa mungkin banyak kita jumpai di mana-mana, atau mungkin kamu sendiri mengalaminya. Ingat, kebanyakan penyebab patah hati itu berasal dari yang dekat-dekat. Nggak usah nyari jauh-jauh, musuh dalam selimut sudah sering mengintai.

Pandangan orang lain yg negatif terhadap kita memang bisa bikin citra diri kita down.
Tapi kita bisa kok menaikkan citra diri kita itu. Citra diri sebagai bagian dari konsep diri memang harus selalu kita jaga agar nggak down.
Ada buku yang bagus tentang mengatur konsep diri kita agar selalu positif -dus, hasilnya kita jadi pede juga. Silakan lihat, review Change to be Super di sini