Sebenarnya bukan menjadi rahasia lagi kalau di sekolah saya (atau di mana pun), mencontek sudah menjadi kebiasaan yang saya yakin susah dihilangkan. Walaupun guru-guru sudah mencoba berbagai metode yang berbeda saat muridnya ulangan, namun siswa seperti nggak kehabisan akal untuk saling berbagi jawaban. Selain mencegah dengan tindakan, guru juga berupaya untuk memberi pencerahan pada muridnya lewat nasehat-nasehatnya sesekali waktu.
Saya sendiri sudah sering mendapati guru yang demikian. Mungkin mereka hanya mengatakan, “Cobalah kalian mengerjakan sendiri ulangan itu. Kalau mencontek, ya sama saja dengan membodohi diri sendiri. Kamu sendiri yang akan rugi.” Atau wejangan yang mirip-mirip begitu. Namun sepanjang pengalaman saya menjadi pelajar di Malang, sejauh ini saya hanya menemukan paling tidak 4 guru yang mempunyai cara tersendiri dalam menyadarkan muridnya. Salah satunya adalah guru fisika saya di SMA.
Ceritanya bermula pas habis ulangan Impuls dan Momentum. Guru saya itu sepertinya sudah paham kalau ada beberapa jawaban muridnya yang tidak murni hasil pemikiran sendiri. Lalu saat tiba saatnya membagikan hasil ulangan, guru saya mengawalinya dengan pengumuman presentase siswa yang lulus. Katanya tidak lebih dari 30%. Lebih parah lagi, guru saya bilang bahwa hasil ini masih dinodai dengan kebiasaan buruk murid itu, yaitu mencontek.
Beliau lalu berdiri di depan kelas, dan murid bersiap-siap menerima ceramah panjang yang membentang. Beliau memulai, “Mencontek itu sebenarnya adalah cerminan diri kita yang kurang memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri kita sendiri. Orang yang tidak percaya diri, pasti kalau ulangan itu ribut toleh kanan-kiri demi mendapat jawaban. Inilah, yang mertinya kita kikis demi sedikit.” Atau kurang lebih seperti itu, saya nggak mungkin hapal per kata. Kemudian beliau meneruskan, yang kurang lebih akan saya coba paparkan.
Sebenarnya tujuan kita sekolah itu apa sih? Kalau orientasinya hanya untuk mendapat ijazah lulus dengan memenuhi standar Ujian Nasional, ya buat apa sekolah? Cukup ikut bimbingan intensif 3 bulan saja, nanti ujiannya toh lulus. Makanya kita sekolah ini sebenarnya bukan hanya nilai yang dicari, kalau sekedar nilai nggak akan berarti apa-apa. Tidak akan ada gunanya buat diri kita sendiri. Misalnya kita ulangan, dapat nilai 90, ya sudah. Di masa depan, nilai 90 itu tidak dapat dimanfaatkan. Apalagi kalau kita dapat 90 dengan cara-cara haram, bukan manfaat yang didapat tapi malah rugi.
Di Amerika, ada seorang siswa yang membunuh gurunya sendiri. Padahal siswa itu dikenal sebagai murid yang pintar. Setelah diteliti dan sebagainya, ternyata siswa tersebut memiliki masalah dengan sikap dan pengendalian dirinya. Meskipun nilainya bagus, tapi kalau perangainya buruk ya percuma. Makanya, kita sekolah itu sebenarnya ditekankan pada prosesnya. Bagaimana kita bersikap, atau mengendalikan diri. Berita kejam lainnya silakan lihat di sini.
Nah, dalam proses itu, kita juga dilatih untuk selalu yakin dengan kemampuan diri sendiri. Kita harus memiliki kepercayaan diri yang kuat. Tidak usah bingung cari bantuan sebelum ulangan, cukup kerjakan sendiri dan hasil itulah gambaran kemampuan kita sebenarnya. Kalau kita kurang puas, kita harus pintar-pintar membagi waktu untuk belajar lebih giat. Kalau kita memutuskan tidak peduli, ya terserah wong nantinya juga kita yang nanggung akibatnya. Pokoknya satu, kerjakan ulangan dengan kemampuan sendiri.
Salah satu akibat kalau kita tidak percaya diri adalah kalau kita menjadi pemimpin di masa depan, kita tidak akan mampu memutuskan sesuatu dengan tegas. Selalu meminta berbagai pertimbangan. Hasilnya, kita mudah disetir, atau plin-plan. Oleh karena itu, sebenarnya watak-watak koruptor itu berpangkal dari pendidikan di sekolahan. Merasa bangga dengan nilai yang bukan hasil kerja kerasnya, berusaha memperoleh sesuatu dengan cara haram. Itukan cara berpikir koruptor kebanyakan?
Lalu bagaimana dengan yang memberi jawaban? Yang meminta contekan dan memberi contekan itu sebenarnya sama saja. Dalam tindak kejahatan, yang meminta bantuan dan memeberi bantuan sama-sama dicari. Dalam korupsi, yang menerima dan yang memberi itu sama-sama dilaknat.
Jika kita masuk sekolah dengan melalui berbagai macam seleksi, itu berarti kita adalah orang-orang pilihan. Kenapa kita harus merusak citra orang pilihan itu dengan perbuatan kita sendiri?

soal nyontek kayaknya udah jadi budaya kita. guru juga nyontek laporan rekannya, dosen nyontek karya tulis mahasiswanya, muda-mudi nyontek mode luar negeri. Jadi apa yg ga dicontek
benang merah antara fakta-fakta yang diungkapkan dengan perilaku korupsi masih kabur. Mungkin budaya mencari cara mudah dengan menhalalkan segala cara yang memang banyak terjadi di sekolah-sekolah merupakan akar dari budaya korupsi, pungli dsb.
Meski begitu saya sependapat, sekolah berada pada posisi strategis dalam menyuburkan atau mengikis budaya korupsi.
Anyway, trimakasih atas artikelnya…
===Arsyad Salam===
Mmm, saya rasa ada dua jenis mencontek: yang membangun dan menghancurkan. Kalau kita mau mencontek sesuatu yang positif, boleh-boleh saja. Apalagi kalau mau dikembangkan dengan lebih bagus lagi.
Yang dimaksudkan dalam artikel adalah nyontek yang buruk. Terutama yang menghancurkan kepercayaan diri siswa di sekolah. Akibatnya ya jadi krisis keyakinan seperti yang Anda sebutkan. Guru nyontek, dosen ikutan, dsb.
===adhiwirawan===
Iya ya masih kabur. Yang ingin ditekankan oleh guru saya adalah menumbuhkan kepercayaan diri, sedangkan koruptor itu sendiri adalah salah satu contoh akibat kebiasaan nyontek itu.
Mungkin judulnya yang salah, ya?
Waduh, kayaknya ini bakal jadi PR buat saya…. Makasih…