Ditulis pada saat liburan semester
Fuahh, hari ini adalah hari di mana otakku bisa bernapas lega. Hari-hari penuh siksaan ujian akhir semester selesailah sudah. Tapi, bener-bener UAS kali ini bermakna sekali gara-gara ada beberapa hal bodoh yang saya lakukan. Ya ampun, kalau diingat-ingat lagi, rasanya konyol juga ya, sesuatu macam begitu bisa terjadi sama saya :b
Baiklah, demi mengenang saat-saat terindah ini, saya akan coba ceritakan beberapa hal gila yang (telah) saya lakukan:
Ketotolan#1. Mm, perlu diketahui bahwa pengaturan waktu pelaksanaan ujian di SMA saya cukup bikin bete. Kelas XII ujian di pagi hari, sedangkan kelas X dan XI (saya di sini!) ujian di siang hari. Ada jadwalnya juga. Hari Senin dan Selasa masuk pukul 11.30, dan seterusnya, dan seterusnya…. Nah, karena ujian dimulai pada waktu itu-itu saja, saya berasumsi bahwa setiap hari jam segitulah tes dimulai.
Nah, bodohnya, saya berasumsi tanpa didukung usaha mencari kebenaran (misalnya dengan melihat jadwal, atau bertanya kepada teman). Jadi pada hari itu, hari Rabu, hari ke-3 ulangan, saya masih di rumah seperti biasa. Belajar kek, atau bersiap-siap berangkat sekolah. Saya melirik jam dinding: masih pukul 10.15, masih ada waktu, pikir saya.
Waktu saya sedang tidur-tiduran, hape bergetar. Seorang teman mengirim sms. Bunyinya, “Chew, bahasa inggris aku minta tolong, ya. Ada soal yang nggak ngerti, tanya dong…” atau sesuatu yang mirip begitu. Saya pikir dia sedang menanyakan jawaban dari kumpulan soal Ujian tahun lalu, jadi saya membalas, “Sori, ya. Saya belum ngerjain soal yang kemarin. Males, NANTI SAJA rencananya di skula.”
Sms balasan datang, “Lho, Chew! Saya tanya Ujian sekarang! Mulai hari ini kan kita masuknya jam 10.30?”
Hanya dengan membaca pesan itu saja, rasanya jantung ini sudah hampir copot. Saya memelototi jam dinding saya sekali lagi, pukul 11.20. Wh@#^&89%#!!! Otak saya otomatis langsung membayangkan suasana kelas yang tenang karena ujian, betapa teman-teman saya sedang berpusing-pusing menikmati hidangan di depan hidung mereka, betapa guru-guru pengawas dengan sigap siaga memastikan semuanya aman terkendali, dan betapa kursiku di pojok kiri belakang dingin tak berpenghuni.
Tuhan benar-benar lihai dalam memberi kejutan.
Ketololan#2. Pertama-tama perlu diketahui, siswa membutuhkan sebuah kartu peserta untuk mengikuti ujian. Cara mendapatkannya amat sederhana: kamu harus lunas pembayaran sampai bulan Januari. Yah, bisa dibilang benda satu ini merupakan masalah hidup-mati kami.
Setelah insiden hari Rabu, hari Kamis pun datang. Kali ini kami libur, ada peringatan satu Muharram kan? Demikian pula hari berikutnya, kami tidak ada ulangan. Nah menginjak hari Sabtu, saat itu pagi hari seperti biasa mempersiapkan SEGALANYA sebelum masuk ke medan perang UAS. Saat mencari kartu ujian, saya tidak menemukannya!
“Tenang, tenang… Dicari sekali lagi….” Dan saya mengulangi proses pencarian. Di setiap sudut meja, di kolong kasur, di tas, di manapun! No search item found.
Mulailah menjalar keluar kamar. Mencari di meja depan, mencari di kamar ortu, di kamar adik, kembali lagi ke kamar saya sendiri, ke teras, ke dapur… Sebenarnya saya punya firasat, saya kan (kadang) ceroboh, jadi mungkin kartu itu masih di saku waktu baju saya dicuci. Lalu, dengan mempersiapkan hati selapang-lapangnya, saya melangkah ke tempat jemuran.
Mencari di sana sini, ketemulah sebuah onggokan kertas hijau kucel dan sobek-sobek, terkulai di atas tanah.
….
Saya harus bersiap-siap mendapat pertanyaan-pertanyaan kejam dari panitia UAS hanya untuk meminta sebuah kartu baru. Yah, paling tidak saya mempunyai bukti bahwa kartu saya tidak benar-benar hilang, tapi hanya tercuci. HANYA tercuci.
(Akhirnya saya mendapat gantinya, sebuah kartu kuning tipis bertajuk KARTU UJIAN SEMENTARA.)
Ketololan#3. Yang ini terjadi di hari Sabtu itu, hari yang sama dengan insiden kartu tercuci (Entah kenapa banyak yang terjadi pada akhir minggu itu). Saat itu ujian matematika, dan saya meletakkan kalkulator di kolong meja. Punya saya Casio 3950, lho (mungkin). Baru beli setengah bulan yang lalu.
Setelah pelajaran matematika, saya harus mengikuti ujian keterampilan Komputer di Laboratorium komputer. Saya tidak ingat sama sekali bahwa ada benda super berharga yang saya tinggalkan.
Kalau mengingat itu saya bersyukur bahwa benda itu masih di sana pada saat saya mengambilnya, mengingat akhir-akhir ini banyak kasus kehilangan benda-benda berharga di kelas.
Ketololan#4. Di hari yang sama. Setelah ingat bahwa ada yang ketinggalan di kelas, yaitu kalkulator Casio 3950, saya langsung mengambilnya dan pulang ke rumah. Merasa tidak ada yang kurang, saya dengan riang menyambut malam Minggu.
Saya sadar saat saya akan belajar, saya tidak menemukan kotak pensil saya. Memori saya langsung mundur ketika saya mengerjakan ujian komputer di lab, saya meletakkan kotak hitam itu di samping monitor. Saya ingat betul bahwa saya tidak pernah memasukkannya lagi dalam tas.
Sebenarnya bukan itu yang membuat saya risau. KARTU UJIAN SEMENTARA saya ada di dalam kotak pensil itu!
Masa saya harus minta lagi dengan panitia? “Kali ini alasannya apa? Tergiling mixer lalu termakan?”
