Sudah menjadi harapan tiap orang tua untuk memberikan pendidikan yang terbaik baik putra-putrinya. Pendidikan yang dimaksud tentu saja adalah sebagai bekal untuk terjun di dunia nyata, di mana peran serta orang tua tidak selalu dapat mendampingi mereka di saat mereka sudah dewasa. Ada banyak cara bagi orang tua yang berbeda untuk mencapai hal tersebut, dan salah satu yang paling tipikal adalah menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang tertinggi.
Sekolah dirancang untuk memberi “pendidikan” buat mereka yang mau dididik, yang kemudian bergeser fungsinya sebagai batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan di masa yang akan datang. Maksud saya, memang siapa sih yang tidak ingin kerja, dapat uang, dan menjalani hidup? Itulah yang menjadi dasar berpikir kebanyakan orang yang menyekolahkan anak-anak mereka, yaitu agar putra-putrinya dapat memperoleh pekerjaan yang baik di masa yang akan datang, dan tentunya dengan gaji yang tinggi.
Paradigma ini, menurut saya, berkembang dari sejarah kelam bangsa Indonesia yang pernah dijajah oleh kompeni jaman dulu. Rakyat hidup pas-pasan, makan seadanya, kelaparan, (dan lain-lain, silakan sebutkan), kecuali kalau mereka mau bekerja sebagai buruh yang digaji oleh pemerintah Hindia Belanda. Imbasnya, rakyat kita memiliki satu pola pikir baru, yaitu “hidup adalah untuk bekerja dan dapat uang supaya tidak kelaparan.”
Lanjut Baca »