Juni 17, 2008 oleh Vika Insanittaqwa
Baru sekarang ini terasa bahwa ucapan para psikolog itu ada benarnya. Terutama yang menyinggung soal “masa puber” atau “masa-masa sulit para remaja.”
Gimana mengungkapnya, ya? Saya sedang merasa nggak pasti dalam hidup ini. Banyak hal-hal bertentangan di benak hati, tapi untuk memutuskan rasanya kok bukan perkara kecil.
Masalah utama paling terasa datang dari dunia sekolahan, dunia rutin bagi remaja seperti saya. Saya nggak tahu ini masalah yang umum ataukah cuma saya saja yang nggak normal. Taulah, gimanapun saya akan nyoba.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Personal | yang berkaitan Masa puber | 3 Komentar »
Juni 12, 2008 oleh Vika Insanittaqwa
Puji syukur terhadap Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat-Nya dengan kedatangan sebuah laptop baru di rumah saya. Duh maklumlah, ngetik-ngetik biasanya cuma pake komputer dekstop yang cukup ribet dan menguras tenaga. Apalagi tuh komputer letaknya nggak strategis banget (di kamar bokap-nyokap :p).
Nah dengan kemunculan laptop gress ini, nulis jadi lebih gampang dan lebih private. Gak bakalan ada lagi pengganggu-pengganggu seliweran di saat lagi asyik mikir di depan layar (adik-adik saya yang kelewatan…), gak ada yang bakal marah-marah walopun ngetik sampai lama juga… Tinggal cabut ke kamar dan bawa tidur sekalian.
Saya bocorin spec-nya ya… Ini saya salin dari iklan promo yang masih disimpan nyokap: Lanjut Baca »
Ditulis dalam Personal | yang berkaitan Fujitsu Esprimo U 9200, Laptop | Leave a Comment »
Juni 6, 2008 oleh Vika Insanittaqwa
Kalau mendengar kata “introvert“, apakah yang terlintas di benak Anda sekalian? Sebagian besar mungkin langsung terbesit sosok manusia penyendiri yang nggak banyak teman, nggak asik kalau diajak ngobrol, dan nggak gaul. Yah, tipikal one-man-team.
Bagaimana, ya? Kalau boleh jujur, anggapan tentang sosok para introvert di atas kok rasanya nggak adil. Terkesan sepihak gitu. Maksudnya, emang siapa sih yang ngasi label semacam itu? Siapa yang telah menebarkan anggapan mendiskreditkan kaum introvert di seluruh dunia? Emang siapa yang sudah ngomongin segala sesuatu macam-macam tanpa pikir panjang?
Ya, siapa lagi kalau bukan para ekstrovert, sebagai “yin” dari kaum “yang.”
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Opinion, Psychology | yang berkaitan Ekstrovert, Introvert | 2 Komentar »
Mei 28, 2008 oleh Vika Insanittaqwa
Ini adalah yang ke-3 kalinya bagi Kota Malang dalam menyelenggarakan event serupa, dan sepertinya acara ini juga akan menjadi agenda tahunan untuk tahun-tahun mendatang. FMK 2008 digelar 22-25 Mei yang lalu, dan menyita perhatian seluruh warga Malang seperti biasanya. Termasuk saya.
Yang unik dari acara ini adalah konsepnya. FMK bisa jadi hanyalah merupakan festival biasa, namun dikemas dalam suasana jaman doeloe. Stand-stand yang dibedakan sesuai masa sejarah (masa kerajaan, Islam klasik, dan masa kolonial), pakaian atau dresscode bagi pengunjung yang mewajibkan busana tempo dulu, dilengkapi dengan diorama apik perjalanan sejarah Kota Malang.
Tak tanggung-tanggung, kabarnya ada sekitar 200 peserta yang berpartisipasi menyambut pengunjung dengan stand-stand yang berjajar sejauh 500 meter di sepanjang Jalan Raya Ijen. Demi kelancaran festival, maka akses jalan besar yang menuju lokasi akan ditutup. Tak pelak, jalur transportasi di Malang sempat amburadul akibat kehebohan acara yang bertemakan “Sejuta Tradisi Satu Aksi” ini.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Information | yang berkaitan Festival Malang Kembali 2008, Malang Old Festival 2008 | Leave a Comment »
Mei 15, 2008 oleh Vika Insanittaqwa
Sudah menjadi harapan tiap orang tua untuk memberikan pendidikan yang terbaik baik putra-putrinya. Pendidikan yang dimaksud tentu saja adalah sebagai bekal untuk terjun di dunia nyata, di mana peran serta orang tua tidak selalu dapat mendampingi mereka di saat mereka sudah dewasa. Ada banyak cara bagi orang tua yang berbeda untuk mencapai hal tersebut, dan salah satu yang paling tipikal adalah menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang tertinggi.
Sekolah dirancang untuk memberi “pendidikan” buat mereka yang mau dididik, yang kemudian bergeser fungsinya sebagai batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan di masa yang akan datang. Maksud saya, memang siapa sih yang tidak ingin kerja, dapat uang, dan menjalani hidup? Itulah yang menjadi dasar berpikir kebanyakan orang yang menyekolahkan anak-anak mereka, yaitu agar putra-putrinya dapat memperoleh pekerjaan yang baik di masa yang akan datang, dan tentunya dengan gaji yang tinggi.
Paradigma ini, menurut saya, berkembang dari sejarah kelam bangsa Indonesia yang pernah dijajah oleh kompeni jaman dulu. Rakyat hidup pas-pasan, makan seadanya, kelaparan, (dan lain-lain, silakan sebutkan), kecuali kalau mereka mau bekerja sebagai buruh yang digaji oleh pemerintah Hindia Belanda. Imbasnya, rakyat kita memiliki satu pola pikir baru, yaitu “hidup adalah untuk bekerja dan dapat uang supaya tidak kelaparan.”
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Education, Opinion, School | yang berkaitan Paradigma pendidikan, Sekolah | Leave a Comment »